Konsumerisme
Konsumerisme adalah suatu pola pikir serta tindakan dimana orang
melakukan tindakan membeli barang bukan dikarenakan ia membutuhkan
barang itu tetapi dikarenakan tindakan membeli itu sendiri memberikan
kepuasan bagi dirinya. Fenomena yang menonjol dalam masyarakat Indonesia
saat ini, yang menyertai kemajuan ekonomi adalah berkembangnya budaya
konsumsi yang ditandai dengan berkembangnya gaya hidup. Berbagai gaya
hidup yang terlahir dari kegiatan konsumsi semakin beragam pada
masyarakat perkotaan Indonesia. Kalau dulu ada istilah yang populer dari
Descartes, yakni ”Cogito ergo Sum: Aku berpikir maka aku ada”, tetapi
sekarang istilah yang populer adalah: ”I shop therefore I am: Aku
berbelanja maka aku ada”.
Konsumerisme di Indonesia ini telah
merambah semua level masyarakat. Sebagai contoh adalah apabila suatu
barang yang lagi up to date maka orang akan membeli tanpa peduli apakah
ia membutuhkan atau tidak. Contoh lainnya adalah kegiatan jalan-jalan di
mall, clubbing, fitness, hang out di cafe adalah contoh gaya hidup yang
nampak menonjol saat ini. Semua aktifitas tersebut adalah perwujudan
dari konsumerisme.
Konsumerisme, pada masa sekarang telah menjadi
ideologi baru. Ideologi tersebut secara aktif memberi makna tentang
hidup melalui mengkonsumsi material. Bahkan ideologi tersebut mendasari
rasionalitas masyarakat kita sekarang, sehingga segala sesuatu yang
dipikirkan atau dilakukan diukur dengan perhitungan material. Ideologi
tersebut jugalah yang membuat orang tiada lelah bekerja keras
mangumpulkan modal untuk bisa melakukan konsumsi.
Ideologi
konsumerisme, pada realitasnya sekarang telah menyusupi hampir pada
segala aspek kehidupan masyarakat, mulai dari aspek politik sampai ke
sosial budaya. Konsumerisme dalam hal ini dipandang sebagai suatu proses
dehumanisasi dan depolitisasi manusia karena para warga negara yang
aktif dan kritis telah banyak yang berubah menjadi konsumen yang sangat
sibuk dan kritikus atau peneliti pasif.
Beberapa ilmuwan menyebut
beberapa poin tertentu yang berkaitan dengan munculnya kapitalisme
modern seiring dengan revolusi industri. Asal mula konsumerisme
dikaitkan dengan proses industrialisasi pada awal abad ke-19 dan
dihubungkan juga dengan munculnya kapitalisme dari Karl Marx.
Kapitalisme yang bertujuan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya bagi
pemilik modal dalam kegiatan ekonomi dapat disejajarkan dengan
konsumerisme yang tujuannya ialah meraih kepuasan bagi individu.
Ada
pendapat lain yang mengatakan bahwa konsumersime merupakan fenomena
abad 20 yang dihubungkan dengan munculnya komunikasi massa, bertumbuhnya
kesejahteraan dan semakin banyaknya perusahaan modern. Konsumerisme
menjadi sarana utama pengekspresian diri, partisipasi dan kepemilikan
pada suatu masa dimana institusi komunal tradisional, seperti keluarga,
agama dan negara telah terkikis. Konsumerisme juga terjadi seiring
dengan meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap perubahan dan
inovasi, sebagai respon terhadap pengulangan yang sangat cepat dari
hal-hal yang lama atau pencarian terhadaphal yang baru: produk baru,
pengalaman baru dan citra baru.
Budaya berakar dari kebiasaan.
Artinya, perilaku manusia yang sudah membudaya berakar dari suatu
perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang. Misalnya, bangun pagi
menjadi budaya dalam diri seseorang karena ia sudah melakukan aktivitas
bangun pagi secara berulang-ulang. Bagaimana dengan konsumerisme?
Konsumerisme sekarang sudah menjadi budaya.
Telah ditulis dalam
penjelasan sebelumnya bahwa konsumerisme berasal dari aktivitas
konsumsi. Setelah terjadi perubahan radikal dalam motivasi untuk
melakukan konsumsi, maka muncullah konsumerisme. Konsumerime pada
awalnya baru merupakan gejala, karena baru dipraktekkan dan ditunjukkan
oleh sebagian kecil orang. Akan tetapi, lama-kelamaan, konsumerisme
mulai dikenal dan dipraktekkan oleh semakin banyak orang. Hal ini
seiring dengan berkembangnya gaya hidup (lifestyle) yang membuat orang
mengetahui dan mengalami semakin banyak hal, termasuk konsumerisme ini.
Orientasi
pada gaya hidup membuat orang-orang mengikuti trend yang sedang ada.
Ketika konsumerisme menjadi trend zaman ini, banyak orang pun
mengikutinya. Bagi masyarakat modern (identik dengan masyarakat kota),
keterlibatan pada kehidupan menjadi terasa apabila mereka mengikuti
segala sesuatu yang sedang up to date. Dengan demikian, keterlibatan
orang pada konsumerisme dianggap sebagai keterlibatan pada kehidupan.
Konsumsi demi prestise menjadi aktivitas yang dibuat berulang-ulang dan
akhirnya menjadi budaya. Konsumsi demi prestise dapat disejajarkan
dengan konsumerisme.(*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar